BIOREMEDIASI LIMBAH MINYAK BUMI PDF

Secara umum bioremediasi dimaksudkan sebagai penggunaan mikroba untuk menyelesaikan masalah-masalah lingkungan atau untuk menghilangkan senyawa yang tidak diinginkan dari tanah, lumpur, air tanah atau air permukaan sehingga lingkungan tersebut kembali bersih dan alamiah. Mikroba mengubah bahan kimia ini menjadi air dan gas yang tidak berbahaya misalnya CO2. Bakteri yang secara spesifik menggunakan karbon dari hidrokarbon minyak bumi sebagai sumber makanannya disebut sebagai bakteri petrofilik. Bakteri inilah yang memegang peranan penting dalam bioremediasi lingkungan yang tercemar limbah minyak bumi.

Author:Mooguk Faelrajas
Country:Sao Tome and Principe
Language:English (Spanish)
Genre:Marketing
Published (Last):21 April 2012
Pages:27
PDF File Size:5.95 Mb
ePub File Size:9.27 Mb
ISBN:481-5-20290-295-2
Downloads:8895
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Zulkree



Saturday, April 25, Bakteri Pendegradasi Minyak Apa kalian pernah mendengar kasus tabrakan tanker dengan kapal sinar kapuas? Tabrakan antara kapal tanker Alyarmouk dengan kapal pengangkut barang Sinar Kapuas itu terjadi pada 2 Januari dan mengakibatkan 4.

Hal ini menyebabkan air laut menjadi tercemar dan organisasi ekosistem lautan menjadi rusak, lalu bagaimana cara mengatasinya? Meskipun sebenarnya lingkungan memiliki kemampuan untuk mendegradasi pencemar yang masuk ke dalamnya melalui proses biologis dan kimiawi namun seringkali beban pencemaran di lingkungan lebih besar dibandingkan dengan kecepatan proses degradasi zat pencemar tersebut secara alami. Akibatnya, zat pencemar akan terakumulasi sehingga dibutuhkan campur tangan manusia dengan teknologi yang ada untuk mengatasi pencemaran tersebut.

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi pencemaran minyak secara kimiawi kemoremedasi dan fisik fisikoremedasi ternyata dikhawatirkan menambah efek toksiknya bagi organisme hidup.

Alternatif lain yang dapat digunakan dalam penggulangan pencemaran minyak bumi adalah bioremediasi. Berkembangnya teknologi ini adalah karena teknik penerapannya yang relatif mudah dilapangan dengan biaya operasional yang murah.

Teknologi proses bioremediasi cukup potensial diterapkan di Indonesia. Kondisi iklim tropis dengan sinar matahari, kelembapan yang tinggi, serta keanekaragaman mikroorganisme yang tinggi sangat mendukung percepatan proses pertumbuhan mikroba untuk aktif mendegradasi minyak. Adanya bakteri dalam bahan pangan dapat mangakibatkan pembusukan, menimbulkan penyakit yang ditularkan memalui makanan dan juga dapat melangsungkan fermentasi yang menguntungkan.

Bakasang merupakan salah satu produk fermentasi oleh mikroba fermentatif yang disebut bakteri asam laktat. Penelitian-penelitian dasar tentang karakteristik biokimia bakteri asam laktat pada produk olahan tradisional ini perlu dilakukan. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisa beberapa karakteristik biokimia bakteri kokus dan basil, mengidentifikasi jenis-jenis bakteri kokus dan basil dan menganalisa jumlah bakteri pada produk fermentasi bakasang.

Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan diketahui bahwa pada produk bakasang terdapat beberapa jenis yaitu: Lactobacillus, Streptococcus, Staphylococcus, Bacillus, Clostridium, Micrococcus, Enterobacter, Enterococcus, Escherichia dan Proteus. Pertumbuhan bakteri terjadi pada kisaran suhu 37 derajat C, 40 derajat C, dan pada pH5,6,7.

Bakteri yang bisa hidup di tanah dengan kondisi yang banyak mengandung minyak telah ditemukan para peneliti dari Departement of Enviromental Sciences, Jong-Shik Kim. Hasil tersebut diterbitkan di Applied and Environmental Microbiology pada 6 April Menurutnya, sangat mengejutkan ketika ia mengetahui ada bakteri yang sanggup hidup pada kondisi lingkungan tersebut, dimana oksigen dan air sangat minim bahkan tidak ada sama sekali. Bakteri tersebut yang sebenarnya menurut Kim telah hidup Kim dan David E.

Penemuan tersebut memberikan harapan baru bagi para ahli lingkungan untuk melakukan penelitian lebih jauh tentang bakteri tersebut dan jenis bakteri lainnya yang mampu hidup pada kondisi yang ekstrim. Feliatra menyatakan Di Selat Malaka terdapat genus acinobacter, arthrobacter, brevibacterium, corynebacterium, flavobacterium, mycobacterium, dan vibrio, serta beberapa jenis jamur.

Mereka bisa dimanfaatkan dalam aktivitas penguraian senyawa hidrokarbon yang ditumpahkan ke laut secara efisien, jika mikroba yang terlibat dalam genus-genus itu terlibat dalam hubungan yang sinergis dengan bakteri pengurai pestisida, senyawa berhalogen, serta pengurai deterjen. Gas amoniak bisa diubah menjadi nitrat yang akan menjadi makanan utama bagi plankton di lautan.

Sementara, plankton merupakan sumber protein terbanyak bagi ikan. Oleh karena itu, jika diperhatikan serius, proses nitrifikasi di berbagai kawasan perairan dapat menjadi potensi luar biasa. Bisa digunakan mengembangbiakkan ikan, bahkan menetralisir polusi akibat tumpahan minyak bumi. Penemuan Hkabel Nanoh dari mikroba pada tahun , beberapa spesies bakteri diisolasi oleh Profesor Derek Lovley dari lokasi tanah yang penuh dengan polutan senyawa hidrokarbon. Bacillus licheniformis adalah salah satu bakteri mesofilik yang telah digunakan dalam berbagai proses bioteknologi.

Pati merupakan salah satu sumber karbohidrat dengan kelimpahan terbesar di dunia. Genom dari B. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola ekspresi serta keanekaragaman dari karbohidrase ekstraseluler dari bakteri ini pada dua medium dengan sumber nitrogen yang berbeda, yaitu pepton dan petis udang.

Pola ekspresi dipelajari dengan melihat aktivitas aamilase ekstraseluler, dilakukan juga pengukuran konsentrasi protein serta analisis menggunakan SDS-PAGE terhadap sampel kultur umur 2, 4, 24, 48, 72, 96, dan jam. Bakteri langsung memasuki fase log, kemudian stasioner setelah 6 jam. Dari hasil pengukuran terhadap suhu dan pH optimum, diketahui bahwa enzim a-amilase dari B. Elektroferogram menunjukkan 22 jenis protein dengan berat molekul yang berbeda.

Berat molekul ini kemudian dibandingkan dengan berat molekul yang diperoleh dari basil perhitungan sekuens asam amino enzim karbohidrase. Sedangkan a-amilase, xilanase, lichenase, galaktanase, dan 3-mannanase dihasilkan pada kedua medium. Secara umum terjadi peningkatan konsentrasi terhadap waktu untuk karbohidrase ekstraseluler pada kultur yang menggunakan pepton sebagai sumber nitrogen, sedangkan pada kultur yang menggunakan sumber nitrogen petis udang terlihat perubahan konsentrasi karbohidrase ekstraseluler yang lebih beragam.

Aktivitas aamilase pada kultur yang menggunakan petis udang sebagai sumber nitrogen, lebih tinggi dibandingkan kultur yang menggunakan sumber nitrogen pepton. Enzim karbohidrase B. Microbial Enhanced Oil Recovery MEOR merupakan suatu metode untuk meningkatkan perolehan minyak bumi dengan menggunakan aktivitas bakteri hidrokarbonoklastik. Bakteri tersebut bekerja pada minyak bumi dan batuan dalam formasi reservoir, kemudian dihasilkan beberapa produk seperti gas, asam-asam organik, biopolimer dan biosurfaktan.

Produk-produk tersebut digunakan untuk merangsang pelepasan minyak dari batuan reservoir dengan cara mengubah porositas batuan penyusun reservoir, menurunkan tegangan antarmuka dan viskositas minyak bumi.

Penelitian ini dilakukan untuk mengisolasi bakteri dari reservoir minyak bumi dan air formasi, dan menguji karakteristik bakteri tersebut yang berpotensi untuk dimanfaatkan dalam MEOR. Setelah melalui adaptasi pada medium recovery, diperoleh 6 isolat bakteri yang terdiri dari Flavimonas oryzihabitans, Amphibacillus xylanus, Bacillus polymyxa, Bacillus macerans, Bacillus stearothermophillus dan Clostridium butyricum.

Kemampuan bakteri dalam mengubah sifat fisika-kimia minyak bumi dilakukan dengan menggunakan uji densitas, tegangan antarmuka, viskositas, pengembangan volume minyak Oil Swelling dan GCMC Gas Chromatograph-Mass Spectrophotometry sebagai kultur tunggal. Berdasarkan hasil yang diperoleh, bakteri hasil isolasi tersebut memiliki potensi untuk digunakan dalam MEOR.

Penelitian tentang isolasi dan karakterisasi bakteri hidrokarbonoklastik dari salah satu sumur minyak di Cirebon, Jatibarang telah dilakukan. Dua belas isolat bakteri diperoleh dari hasil isolasi bertahap, tetapi hanya lima isolat bakteri yang dipilih untuk penelitian lebih lanjut berdasarkan hasil shining suhu.

Hasil identifikasi menunjukkan kelima isolat bakteri tersebut ialah Pseudomonas aeruginosa, Pseudomonas diminuta, Pseudomonas putida, Bacillus circulans, dan Bacillus stearothermophillus. Selanjutnya kelima isolat bakteri masing-ma sing diuji kemampuan degradasinya terhadap minyak bumi. Karakterisasi hasil degradasi minyak bumi oleh kelima isolat tersebut dilakukan dengan metode GC.

Pada kromatogram terlihat bahwa semua isolat bakteri yang diperoleh dari isolasi bertahap mampu mendegradasi minyak bumi. Bioremediasi Secara sederhana proses bioremediasi bagi lingkungan dilakukan dengan mengaktifkan bakteri alami pengurai minyak bumi yang ada di dalam tanah. Bakteri ini kemudian akan menguraikan limbah minyak bumi yang telah dikondisikan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan hidup bakteri tersebut.

Dalam waktu yang cukup singkat kandungan minyak akan berkurang dan akhirnya hilang, inilah yang disebut sistem bioremediasi. Baru pada tahun an, bioremediasi mulai dikembangkan penggunaannya pada limbah yang lebih sulit, misalnya pada kontaminasi tanah.

Lalu apa itu bioremedasi? Secara umum bioremediasi dimaksudkan sebagai penggunaan mikroba untuk menyelesaikan masalah-masalah lingkungan atau untuk menghilangkan senyawa yang tidak diinginkan dari tanah, lumpur, air tanah atau air permukaan sehingga lingkungan tersebut kembali bersih dan alamiah. Mikroba mengubah bahan kimia ini menjadi air dan gas yang tidak berbahaya misalnya CO2. Bakteri yang secara spesifik menggunakan karbon dari hidrokarbon minyak bumi sebagai sumber makanannya disebut sebagai bakteri petrofilik.

Bakteri inilah yang memegang peranan penting dalam bioremediasi lingkungan yang tercemar limbah minyak bumi. Bagaimana bioremediasi dilakukan? Faktor utama agar mikroba dapat membersihkan bahan kimia berbahaya dari lingkungan, yaitu adanya mikroba yang sesuai dan tersedia kondisi lingkungan yang ideal tempat tumbuh mikroba seperti suhu, pH, nutrient dan jumlah oksigen. Disini dicantumkan bahwa bioremediasi dilakukan dengan menggunakan mikroba lokal.

Pada umumnya, di daerah yang tercemar jumlah mikroba yang ada tidak mencukupi untuk terjadinya bioproses secara alamiah.

Dalam teknologi bioremediasi dikenal dua cara menstimulasi pertumbuhan mikroba, yaitu dengan biostimulasi dan bioaugmentasi. Mikroba yang ditambahkan adalah mikroba yang sebelumnya diisolasi dari lahan tercemar kemudian setelah melalui proses penyesuaian di laboratorium diperbanyak dan kembalikan ke tempat asalnya untuk memulai bioproses.

Penambahan mikroba dengan cara ini disebut sebagai bioaugmentasi. Sebaliknya jika kondisi yang dibutuhkan tidak terpenuhi, mikroba akan tumbuh dengan lambat atau mati. Secara umum kondisi yang diperlukan ini tidak dapat ditemukan di area yang tercemar.

Dengan demikian, perencanaan teknis engineering design yang benar memegang peranan penting untuk mendapatkan proses bioremediasi yang efektif. Dalam aplikasi teknik bioremediasi dikenal dua teknik yang sangat umum diterapkan yaitu biopile dan landfarming. Pada teknik biopile, tanah tercemar ditimbun diatas lapisan kedap air dan suplai udara yang diperlukan oleh mikroba dilakukan dengan memasang perpipaan untuk aerasi pemberian udara dibawah tumpukan tanah tercemar.

Pompa udara dipasang diujung perpipaan sehingga semua bagian tanah yang mengandung mikroba dan polutan berkontak dengan udara. Dengan teknik ini, ketinggian tanah timbunan adalah 1 sampai 1,5 meter. Teknik landfarming dilakukan dengan menghamparkan tanah tercemar diatas lapisan kedap air.

Ketebalan hamparan tanah 30 — 50 cm memungkinkan kontak mikroba dengan udara. Untuk menjamin bahwa semua bagian dari tanah yang diolah terkontak dengan udara maka secara berkala hamparan tanah tersebut di balikkan. Nama landfarming digunakan karena proses pembalikan tanah yang dilakukan sama dengan pembalikan tanah pada saat persiapan lahan untuk pertanian. Dalam melakukan bioremediasi, diperlukan biodegradasi senyawa hidrokarbon secara berkelanjutan dan terkontrol baik.

Bioremediasi senyawa hidrokarbon dapat dilakukan dengan cara penambahan nutrient biostimulasi atau dengan penambahan mikroorganisme pendegradasi hidrokarbon secara langsung. Dalam hal ini, bakteri adalah mikroorganisme yang tepat dan umum digunakan dalam bioremediasi hidrokarbon.

Bakteri dapat mendegradasi senyawa hidrokarbon dan menggunakan senyawa tersebut sebagai sumber karbon untuk pertumbuhan. Pelaksanan bioremediasi dengan menggunakan bakteri pada dasarnya menmbutuhkan kerja sama lebih dari satu spesies bakteri. Hal tersebut karena senawa hidrokarbon seperti minyak bumi terbentuk dari bayak gugus yang berbeda dan bakteri hanya dapat menggunakan hidrokarbon pada kisaran tertentu. Oleh karena itu, dalam memanfaatkan bakteri, diperlukannya suatu identifikasi yang tepat untuk menyesuaikan dengan kemampuannya dalam mendegradasi hidrokarbon.

Beberapa bakteri yang memanfaatkan hidrokarbon sebagai senyawa pertumbuhan serta secara tidak langsung berperan dalam bioremediasi adalah : 1. Pseudomonas sp. Dengan demikian, jenis bakteri ini dapat di,amanfaatkan dengan baik dalam melakukan bioremediasi dengan hidrokarbon. Tetapi terdapat beberapa faktor, salah satu faktor tersebut adalah kelarutannya yang rendah, sehingga sulit mencapai sel bakteri.

Dalam produksi biosurfaktan, berkaitan dengan keberadaan enzim regulatori yang berperan dalam sintesis biosurfaktan. Surfaktan dengan berat molekul rendah seperti glikolipid, soforolipid, trehalosalipid, asam lemak dan fosfolipid yang terdiri dari molekul hidrofobik dan hidrofilik. Kelompok ini bersifat aktif permukaan, ditandai dengan adanya penurunan tegangan permukaan medium cair. Dengan adanya biosurfaktan, substrat yang berupa cairan akan teremulsi dibentuk menjadi misel-misel, dan menyebarkannya ke permukaan sel bakteri.

Substrat yang padat dipecah oleh biosurfaktan, sehingga lebih mudah masuk ke dalam sel Pelezar, Pelepasan biosurfaktan ini tergantung dari substrat hidrokarbon yang ada.

DESCARGAR EL CAMINO DE LA AUTODEPENDENCIA JORGE BUCAY PDF

Landfarming

Tindakan pertama yang dilakukan dalam mengatasi tumpahan minyak yaitu dengan melakukan pemantauan banyaknya minyak yang mencemari laut dan kondisi tumpahan. Teknik ini melibatkan banyak pengamat, sehingga laporan yang diberikan sangat bervariasi. Pada umumnya, pemantauan dengan teknik ini kurang dapat dipercaya. Sebagai contoh, pada tumpahan jenis minyak yang ringan akan mengalami penyebaran spreading , sehingga menjadi lapisan sangat tipis di laut. Pada kondisi pencahayaan ideal akan terlihat warna terang. Namun, penampakan lapisan ini sangat bervariasi tergantung jumlah cahaya matahari , sudut pengamatan dan permukaan laut, sehingga laporannya tidak dapat dipercaya. SLAR dapat dioperasikan setiap waktu dan cuaca , sehingga menjangkau wilayah yang lebih luas dengan hasil penginderaan lebih detail.

DESCARGAR EL CUADERNO DE RUTKA PDF

Limbah minyak

Tentu saja tidak lepas dari peraturan lain jika terkait jenis limbah lain misalnya limbah cair atau logam berat. Analisis Limbah Sebelum melakukan pengolahan limbah minyak bumi dengan metoda biologis, maka perlu dilakukan analisis terhadap bahan yang diolah untuk mengetahui komposisi dan karakteristik limbah yang terdiri dari: a. Persyaratan Limbah Yang Diolah Persyaratan limbah minyak bumi yang diolah secara biologis adalah sebagai berikut: a. Tabel 1.

1803DHI DATASHEET PDF

BIOREMEDIASI

Bioremediasi 2. Bioremediasi merupakan pengembangan dari bidang bioteknologi lingkungan dengan memanfaatkan proses biologi dalam mengendalikan pencemaran atau polutan. Yang termasuk dalam polutan antara lain logam-logam berat, petroleum hidrokarbon, dan senyawa-senyawa organik terhalogenasi seperti pestisida, herbisida, dan lain-lain. Bioremediasi mempunyai potensi menjadi salah satu teknologi lingkungan yang bersih, alami, dan paling murah untuk mengantisipasi masalah-masalah lingkungan. Menurut Ciroreksoko , bioremediasi diartikan sebagai proses pendegradasian bahan organik berbahaya secara biologis menjadi senyawa lain seperti karbondioksida CO2 , metan, dan air.

UNI TS 11300-1 PDF

Saturday, April 25, Bakteri Pendegradasi Minyak Apa kalian pernah mendengar kasus tabrakan tanker dengan kapal sinar kapuas? Tabrakan antara kapal tanker Alyarmouk dengan kapal pengangkut barang Sinar Kapuas itu terjadi pada 2 Januari dan mengakibatkan 4. Hal ini menyebabkan air laut menjadi tercemar dan organisasi ekosistem lautan menjadi rusak, lalu bagaimana cara mengatasinya? Meskipun sebenarnya lingkungan memiliki kemampuan untuk mendegradasi pencemar yang masuk ke dalamnya melalui proses biologis dan kimiawi namun seringkali beban pencemaran di lingkungan lebih besar dibandingkan dengan kecepatan proses degradasi zat pencemar tersebut secara alami. Akibatnya, zat pencemar akan terakumulasi sehingga dibutuhkan campur tangan manusia dengan teknologi yang ada untuk mengatasi pencemaran tersebut.

Related Articles